Tuesday, October 03, 2006

Muhammadiyah UK...

Alhamdulillah... akhirnya aku menginjakkan kaki di eropa... tidak dipinggiran eropa, tapi tepat di tengahnya... united kingdom... the great invader in the world...

Sekarang ini... temen2 dari Indonesia... baik itu yang Muhammadiyah, NU atau lainnya... yang kebetulan tinggal di luar negeri.. ramai2 bikin perkumpulan dengan menonjolkan identitasnya.... salah satunya PCIM Mesir atau NU cabang UK, Australia dsb...entah mengapa... sepertinya identitas kultural yang mereka bawa tidak bisa serta merta luntur di tanah sebrang... bahkan tambah menguat..

Mas sayuti... demange Litbang Muhammadiyah itu, belum2 dah kasih tugas buatku untuk bikin Muhammadiyah cabang UK... hiii

AKu tinggal di Nottingham... karena memang kuliah di University of Nottingham. kebetulan disini dah lama ada pengajian Leicestershire dan Nottinghamshire... alau PELN.. kebetulan aku diminta jadi koordinator Nottingham untuk setahun ke depan...

Berkaitan dengan.. ide Muhammadiyah UK... entah mengapa aku merasa janggal dengan ide itu... apakah kita perlu mengibarkan kembali bendera kultural kita... padahal dengan bendera Indonesia... kita bisa masuk cross cultural, cross religion dan... cross yang lain...

that's why?

Portland Building, 3/10/2006

Micko

Tuesday, August 22, 2006

Menjadi Kader (bukan untuk) Muhammadiyah

Menjadi Kader (bukan untuk) Muhammadiyah

(Tanggapan terhadap Tulisan Farid Setiawan dan para komentatornya)

Micko

Diluar konten materinya, tulisan saudara Farid Setiawan tentang Mu’allimin-Mu’allimaat mengguncang stabilitas sosial-budaya Muhammadiyah. EMGAIN-EMGAAT begitu para alumnusnya menyebut madrasah ini, memang telah menempati posisi elit dan prestisius dalam sejarah perkembangan Muhammadiyah era klasik. Baik James L. Peacock, Mitsuo Nakamura, Alfian hingga (alm) Kuntowijoyo mengakui peran dan pengaruh Mu’allimin-Mu’allimaat dalam percaturan Muhammadiyah di seluruh pelosok negeri ini. Inilah mengapa apapun komentar dan tulisan yang kritis terhadap kedua lembaga pendidikan ini pasti ditanggapi dan dikonter dengan penuh reaktif- antusias, dan kalau perlu disangkal dan dipersalahkan.

Tulisan ini merupakan ekserpsi kasar dari Skripsi penulis di jurusan Sosiologi UGM tahun 2003 berjudul “Menjadi Kader Muhammadiyah: Studi terhadap Wacana Pembaharuan Alumnus Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta dalam Muhammadiyah”. Embrio ide dan gagasan dalam skripsi itu sendiri merupakan gumpalan-gumpalan kegelisahan dan kekecewaan penulis sejak di kelas III Tsanawiyah Mu’allimin terhadap grand design sekolah kader yang ambigu, tidak jelas dan parsial. Unit analisis skripsi tersebut adalah para alumnus Mu’allimin muda lulusan kisaran tahun 1997-2002. Kesimpulan yang perlu diperhatikan adalah 1) Para alumnus muda tersebut mengalami kesulitan dan kegagalan dalam mengaktualisasikan dirinya sebagai alumni sekolah kader Muhammadiyah baik secara konseptual maupun pada dataran praxis; 2) Eksklusifitas dan mitos sekolah kader Mu’allimin hanya berhasil membangun fanatisme Muhammadiyah pada diri alumnusnya, namun gagal mendorong aksi terlibat dan mengembangkan nilai-nilai yang diperjuangkannya dalam dinamika realitas; dan 3) Dinamika Muhammadiyah dengan watak ideologi terbukanya mempengaruhi dan merubah pola rekruitmennya yang tidak friendly dengan alumnus Mu’allimin. Kesimpulan lanjutannya adalah upaya mempertanyakan legitimasi Mu’allimin sebagai sekolah kader Muhammadiyah pada era kontemporer. Berkaitan dengan isu “Penyelamatan Mu’allimin-Mu’allimaat” yang digulirkan oleh saudara Farid S, tulisan ini mendapati momentumnya.

Sekolah Kader tanpa Kader

Sebagai alumnus Mu’allimin dan aktifis muda Muhammadiyah, saya memahami dan menyadari reaksi para alumnus Mu’allimin dan tokoh Muhammadiyah sepuh yang gerah dengan wacana saudara Farid S. Namun sebaiknya mereka juga mau melihat dan memperhatikan lebih cermat kepada para pengelola madasarah khususnya para musrif/musrifah, guru dan asatidznya. Pengalaman pribadi saya ketika masih aktif sebagai siswa, korp musrif adalah sekelompok orang asing yang memasuki ruang terdalam Muhammadiyah. Suatu waktu, sebagian besar musrif adalah alumnus Ponpes Muhamadiyah Paciran Karangasem Lamongan. Berikutnya sebagian mereka berasal dari Ma’had Ali Lamongan. Pernah pula dari para alumnus Ponpes Alamin Madura, dari Gontor, PUTM dan sebagainya. Investigasi saudara Farid S tentang keberadaan para musrif penyebar “virus tarbiyah” bukanlah suara tong kosong yang nyaring. Mu’allimin dan Mu’allimaat memang selalu kesulitan merekrut para musrif yang kompeten, loyal dan ber-background aktifis/kader Muhammadiyah dari tahun ke tahun. Lembaga ini juga kesulitan merekrut guru dan asatidz yang kompeten dan berlatarbelakang aktifis/kader Muhammadiyah. Kesulitan ini yang selanjutnya dimanfaatkan oleh para penyebar “virus tarbiyah” memasuki ruang dalam Muhammadiyah.

Posisi dan pendapatan musrif memang termasuk kecil, namun mereka memiliki peran dan interaksi langsung dengan siswa-siswi madrasah. Mereka memainkan peran yang sangat signifikan dan menentukan dalam pembentukan karakter kader Muhammadiyah dari Mu’allimin-Mu’allimaat. Sayangnya sebagian besar mereka, bukan hanya saat ini tapi sudah sejak beberapa tahun lalu, bukanlah kader/aktifis Muhammadiyah dan tentunya tidak akrab dengan dunia dan perjuangan Muhammadiyah. Indikasi keberadaan penyebar “virus trabiyah” dalam korp musrif/musrifah yang memiliki ideologi dan manhaj yang berbeda dengan Muhammadiyah, serta aktifitas mendevaluasi nilai-nilai Muhammadiyah harus mendapatkan perhatian sangat serius. Tentunya wacana ini jangan direduksi dengan membabi buta pada perbedaan afiliasi partai politik. Ini sangat berkaitan ideologi-manhaj dan cita-cita perjuangan Muhamadiyah pada diri alumnus Mu’allimin-Mu’allimaat. Mereka sebagai kader Muhammadiyah tidak bisa ditawar. Apabila dikemudian hari mereka memperjuangkan ideologi dan nilai-nilai non- atau kontra-Muhammadiyah adalah suatu kerugian besar dan harus dicari penyebabnya. Saat sekarang ini, beberapa sahabat saya sesama alumnus Mu’allimin telah menyeberang ke ideologi lain. Diantaranya ada yang menjadi tokoh Hizbut Tahrir Indonesia di Yogyakarta, Penggiat Tarbiyah hingga terlibat gerakan kiri. Hematnya, sebagian besar mereka tidak aktif dalam Muhammadiyah atau ortomnya, dengan berbagai alasan dan pertimbangan.

Sanggahan Pak Sunardi Sahuri, seorang alumnus Mu’allimin sepuh yang ketiga putranya yang juga alumnus Mu’alimin (Khadafi, Saif dan Deny) adalah sahabat-sahabat dekat saya, sebenarnya mencurigakan. Pak Sunardi Sahuri selama ini tidak banyak terlibat dalam aktifitas Muhammadiyah termasuk ketiga putranya yang menolak aktif di ortom Muhammadiyah (IRM, IMM dan PM). Saya khawatir Pak Sunardi Sahuri tidak memiliki kepekaan dan kesadaran sebagaimana para aktifis Muhammadiyah terhadap bahaya “virus tarbiyah” karena jargon netralitasnya. Lebih jauh, saya sangat kawatir pabila Pak Sunardi Sahuri sendiri adalah pendukung dan penyebar “virus tarbiyah” tersebut.

Integrasi Mu’allimin-Mu’allimaat dalam Sistem Perkaderan Muhammadiyah

Meskipun berpredikat sebagai sekolah kader, Mu’allimin-Mu’allimaat sebenarnya tidak terintegrasi dengan baik dalam sistem perkaderan Muhammadiyah. Kedua lembaga perkaderan tersebut berada dibawah koordinasi langsung PP Muhammadiyah melalui Badan Pembina. Akibatnya semua kebijakan ditingkatan PW, PD, PC, PR Muhammadiyah termasuk ortomnya tidak bisa menyentuh Mu’allimin, bersinggungan pun tidak. Satu bukti yang jelas adalah hingga sekarang ini Mu’allimaat tetap mempertahankan PPMMM (Persatuan Pelajar Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah) dan menolak bergabung dengan IRM. Adalah tidak para siswi Mu’allimaat terlibat aktif dalam IRM di Yogyakarta karena organsiasi kesiswaannya tidak memiliki relasi dengan IRM. Epifenomena ini mengindikasikan bagaimana baik secara konseptual maupun praxis, sistem perkaderan Mu’allimin-Mu’allimaat tidak berada dalam payung besar sistem perkaderan Muhammadiyah.

Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah membuka kran Badan Pembina yang selama ini eksklusif terdiri hanya para alumnus Mu’allimin-Mu’allimaat. Badan Pembina selayaknya melibatkan secara aktif Majelis Pendidikan Kader PP Muhammadiyah, PW Muhammadiyah DIY dan Organsasi Otonom Muhammadiyah (baca: AMM). Langkah ini bertujuan untuk mendinamisasi sistem perkaderan Mu’allimin-Mu’allimaat agar relevan dengan dinamika internal dan eksternal Muhammadiyah. Langkah kedua menyangkut screening ideologi dan cita-cita perjuangan para pengelola Mu’allimin-Mu’alimaat termasuk musrif/musrifah, guru dan asatidznya dikomparasikan dengan nilai-nilai perjuangan Muhammadiyah. Langkah ini sebenarnya sangat kontroverial, karena sangat sensitif dan radikal. Namun mengingat Mu’allimin-Mu’allimaat sebagai sekolah kader dan reputasinya dikalangan warga Muhammadiyah, kedua lembaga ini tidak bisa ditawar lagi harus sangat Muhammadiyah. Langkah ketiga adalah memperbanyak keterlibatan aktif para siswa Mu’allimin dan juga para alumnusnya dalam aktifitas ortom Muhammadiyah. Langkah ini menuntut ketelibatan dan perhatian semua elemen Muhammadiyah khususnya di Yogyakarta. Reputasi Mu’allimin-Mu’allimaat sebagai sekolah kader sebenarnya tidak by design. Predikat tersebut adalah efek dari aktifitas dan keterlibatan para alumnusnya dalam pengembangan dan perjuangan Muhammadiyah. Keterlibatan dan kontribusi para alumnus ini tidak juga serta merta diberikan, lingkungan warga Muhammadiyah-lah yang menuntut dan mengkondisikan mereka sehingga berhasil mengaktualisasikan diri sebagai kader.

Wednesday, August 09, 2006

Perkaderan untuk Muhammadiyah

Oleh Micko

Kata Kader dalam dunia realitas Muhammadiyah sangat populer. Namun sebenarnya kata ini digunakan dengan sangat arbiter, serampangan dan tanpa dasar filosofis dan organisasional yang jelas dan mapan. Kader sering dirujukkan kepada anak/generasi muda, pimpinan ortom/lembaga atau siapapun yang memiliki kaitan dengan Muhammadiyah. Kader memiliki batasan makna yang sangat luas, yang bertumpang tindih dengan Pimpinan dan Anggota Muhammadiyah.

Selama puluhan tahun, sejak Muhammadiyah mapan sebagai organisasi, wacana krisis kader sudah ada dan tidak pernah terselesaikan. Krisis kader ditandai dengan gejala kuantitas kader yang semakin berkurang (khususnya pada waktu penyusunan pimpinan organisasi), kualitas kader berhadapan dengan realitas baik di dalam maupun di luar Muhammadiyah (di dalam menyangkut profesionalisme di AUM), beberapa warga/kader Muhammadiyah memilih pindah/menyeberang ke organisasi lain (baik yang sejenis atau mirip/bid’ah Muhammadiyah). Berdasar fakta-fakta ini, revitalisasi Perkaderan Muhammadiyah yang digaungkan dalam Muktamar dan Musywil ditujukan untuk mengatasi krisis kader ini (meningkatkan kuantitas dan kualitas kader dan mencegah penyeberangan kader). Apakah ini semua betul-betul menjadi tujuan perkaderan Muhammadiyah? Ini sangat berkaitan dengan jawaban pertanyaan, untuk apa sebenarnya kehadiran Muhammadiyah. Hingga sekarang ini belum tercapai suatu konsensus bersama yang luas, terlembagakan dan terinternalisasi (juga kontekstualisasi) dengan baik di dalam setiap komponenen/elemen Muhammadiyah tentang tujuan, cita-cita, langkah-langkah mencapainya baik Muhammadiyah dan Perkaderannya. Reduksi Perkaderan dalam Pelatihan Bait/Dar al Arqom mengakibatkan perkaderan menjadi kering dan kehilangan watak motivatornya. Terlebih dalam pelatihan, banyak jebakan-jebakan dalam perumusan tujuan, target, proses hingga pemilihan materi dan penekanannya.

Tulisan ini bertujuan untuk mengeksplorasi gagasan tentang tujuan dan bagaimana perkaderan dalam Muhammadiyah. Secara normative, perkaderan memiliki beban tugas untuk menciptakan cita-cita yang bisa dicapai, guideline untuk mencapainya dan ikatan emosional dengan Muhammadiyah baik sebagai komunitas dan patronnya. Sehingga seorang kader memiliki cara pandang masalah, berpikir, berperilaku, cara/pola kerja dan berjuang yang khas Muhammadiyah. Tujuang akhir perkaderan berkaitan erat dengan tujuan Muhammadiyah.

Berdasarkan beban dan tanggung jawab tersebut, perkaderan memiliki 6 (enam) tahapan, yaitu:

1. Propaganda/Sosialisasi

Propaganda/Sosialisasi berkaitan dengan pengenalan berbagai hal tentang Muhammadiyah. Tujuanya untuk menarik simpati dan pengikut. Kegiatan ini sebenarnya memiliki peranan yang sangat penting dalam Perkaderan. Propaganda/Sosialisasi yang baik (materinya benar-benar mengemukakan nilai-nilai dan cita-cita serta pola-pola perjuangan Muhammadiyah dan dilakukan melalui cara-cara yang menarik) akan menghasilkan calon-calon kader yang tepat dan sesuai denga harapan.

2. Rekruitmen

Kegiatan ini merupakan satu bentuk seleksi terhadap calon-calon kader Muhammadiyah. Pola rekruitmen yang baik (adanya standar kualitas/kemampuan yang jelas, motivasi yang sesuai) dapat menghasilkan kader-kader Muhammadiyah yang juga berkualitas dan memiliki visi-misi yang sesuai dengan gerakan Muhammadiyah. Sebagai catatan: disini harus dijelaskn dengan rinci, perbedaan antara Kader, Pimpinan dan Anggota Muhammadiyah.

3. Penetapan Tujuan Kader (Goal Attainment)

Setiap kader dan juga seluruh kader Muhammadiyah selayaknya mencapai konsensus berkaitan dengan tujuan kekaderannya. Tahapan ini lebih focus pada pembentukan karakter (character building) kader-kader Muhammadiyah.

4. Peningkatan Kualitas dan Pengayaan kecakapan

Selama ini kader-kader Muhammadiyah hanya dipersiapkan untuk menduduki posisi-posisi politis-manajerial organsisasi. Pola program peningkatan kualitas kader pun cenderung sangat manajerial organisasi sentris. Program-program peningkatan kualitas dan pengayaan kecakapan-kecakapan tertentu selayaknya mendapatkan perhatian.

5. Distribusi/Transformasi Kader

Tahapan ini seringkali terlupakan atau terabaikan. Banyak kader-kader Muhammadiyah menyeberang dan meninggalkan Muhammadiyah setelah mengalami frustasi karena tidak mendapatkan ruang dan kesempatan beraktualisasi. Transformasi/distribusi kader sebenarnya menjawab tantangan dinamika perkaderan dan kader Muhammadiyah yang relative stagnan. Transformasi/Distribusi kader ini tidak hanya internal Muhammadiyah (termasuk ortom dan AUM), tapi juga lembaga-lembaga lain diluar Muhammadiyah yang dipegang/dilingkupi oleh orang-orang Muhammadiyah.

6. Pemeliharaan pola-pola laten (Laten Pattern Maintenance)

Tahapan ini berkaitan dengan upaya memelihara hubungan dan ikatan emosional antara kader dengan Muhammadiyah dan antar kader-kader Muhammadiyah. Selama ini ikatan ini sangat lemah. Ini disinyalir karena watak birokratis-rasional dalam Muhammadiyah. Selain itu desetralisasi organisasi Muhammadiyah turut berperan, berikut tiadanya ruang/wadah lintas elemen dalam Muhammadiyah untuk saling berinteraksi tanpa adanya sekat-sekat kepentingan primordial, penuh egaliter dan akrab.

Piyungan, 15 Feb 2006

Monday, August 07, 2006

Bermuhammadiyah

Bermuhammadiyah

“Hidup-hidupilah Muhammadiyah,

dan jangan mencari hidup dalam Muhammadiyah”


Satu pesan KHA. Dahlan tersebut termasuk yang paling sering disebut. Semakin seringnya, para warga Muhammadiyah sudah bosan dengannya dan kehilangan relevansi maknanya. Atau teman-teman IRM dan juga AMM pada umumnya, membuat plesetannya: “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, dan carilah pasangan hidup dalam Muhammadiyah”. Namun tidak bisa dipungkiri, bahwa pesan beliau yang satu ini sangat sarat makna, hingga kapan-pun selama Muhammadiyah masih ada di bumi ini. Khususnya pada masa masa sekarang ini, ketika banyak kader karbitan dan orbitan bonceng organisasi, amal usaha dijarah oleh mereka yang memiliki KTM (Kartu Anggota Muhammadiyah) namun berkeyakinan, berideologi dan memperjuangkan nilai-nilai kontra-Muhammadiyah. Siapapun mereka itu, apa tidak takut kuwalat kepada Kiai Dahlan?

Membicarakan makna kuwalat, tanpa bermaksud percaya takhyul dan khurofat, dalam konteks ber-Muhammadiyah dalam arti meyakini, berideologi dan memperjuangkan nilai-nilainya. Kuwalat cenderung berarti pura-pura ber-Muhammadiyah, menikmati dan makan-minum darinya, mendapatkan kedudukan dan kesempatan hidup karenanya, tapi tidak percaya dengan nilai-nilai Muhammadiyah dan tentu saja tidak berusaha sedikitpun memperjuangkannya. Lebih-lebih bila ditambah dengan turut serta dalam gerakan menjelekkan, memfitnah dan merongrong Muhammadiyah. Itu yang disebut kuwalat. Karena dengan keberadaan mereka ini, Muhammadiyah menjadi lemah dan menuju kehancuran.

Pola Rekruitmen Muhammadiyah

Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah menganut pola organisasi terbuka termasuk pola rekruitmennya. Meskipun dalam wacana Muhammadiyah sering muncul istilah ‘Kader’, sebenarnya definisinya tidak jelas dan sering dikaburkan dengan konsep ‘Pimpinan’. Artinya tidak jelas bahwa kader adalah pimpinan itu sendiri atau pimpinan adalah kader sendiri, juga apa perbedaannya dengan anggota. Hingga saat ini, AD/ART Muhammadiyah hanya membahas tentang ‘Anggota’ dan ‘Pimpinan’ dan tidak membahas ‘Kader Muhammadiyah’. Ketidakjelasan ini berakar pada sifat terbuka dalam Muhammadiyah. Berbeda dengan organisasi lain yang bersifat tertutup yang diperlengkapi dengan stratifikasi anggota yang hierarkhis, rigid dan berbagai hak dan kewajiban istimewa bagi masing-masing anggotanya.

Selama kurun waktu awal berdirinya hingga sekarang, meminjam kerangka konsep tranformasi masyarakat muslim Indonesia Kuntowijoyo (beliau mengadopsinya dari tesis Karel A. Steenbrink: Pesantren Madrasah Sekolah) dari masyarakat pra-industrial, semi-industrial dan industrial.

Pra-industrial

Genealogis

Semi-Industrial

Segmental

Industrial

Sporadis

Pada masa pra-industrial atau masa Muhammadiyah awal, pola rekruitmen Muhammadiyah menganut jalur Genealogis. Muhammadiyah berkembang ditopang oleh orang-orang yang masih kerabat, memiliki hubungan darah, bersaudara, bapak dan anak dan hubungan kedekatan dan kekerabatan lain. Muhammadiyah masa semi-industrial, rekruitmennya menganut jalur Segmental. Disini ia ditopang kelompok-kelompok tertentu. Ketika memasuki masa industrial, pola rekruitmen Muhammadiyah menganut Sporadis, terbuka, siapapun bisa masuk bila memenuhi syarat-syarat tertentu yang sangat umum (Wardana, 2003).

Implikasi pola rekruitmen sporadis ini tampak jelas pada masa sekarang. Para tokoh Muhammadiyah hasil rekruitmen jalur Genealogis dan Segmental mulai menghilang. Tokoh-tokoh Muhammadiyah terkini lahir dari perjuangan mereka dalam Muhammadiyah, bukan warisan dan pemberian. Terpilihnya Prof. Dr. M. Dien Syamsudin menjadi Ketua Muhammadiyah membutktikan pola sporadis ini. Beliau ketika duduk di bangku sekolah menengah, aktif di IPNU. Sifat inklusif Muhammadiyah ini tidak selamanya berdampak baik khususnya bagi dirinya sendiri. Tanpa disadari, lahir pula orang-orang yang hanya bonceng, memanfaatkan dan mencari kehidupan dalam Muhammadiyah tanpa mau mengakui dan memperjuangkan nilai-nilainya.

Bermuhammadiyah

Berdasarkan keyakinan, praktek keagamaan dan afiliasi politiknya, Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan membuat klasifikasi warga Muhammadiyah di Wuluhan, Jember, Jawa Timur dengan kategorisasi: Islam Murni (Kel. Al-Ikhlas); Islam murni yang tidak mengerjakan sendiri tapi toleran terhadap praktek TBC (Kel. Kiai Dahlan); neotradisionalis (Kel. Munu, Muhammadiyah-NU); dan neosinkretis (kel. Munas, Muhammadiyah-Nasionalis atau disebut juga Marmud, Marhaenis-Muhammadiyah) (Mulkhan, 2000). Berdasarkan kerangka analisis motivasi bermasyarakat dari Ferdinand Tönnies, seorang Sosiolog Klasik German, bagaimana klasifikasi berr-Muhammadiyah. Dalam karyanya Gemeischaft und Gesellschaft (diterjemahkan oleh Charles Loomis: Community and Society, 1963), ia mengemukakan dua tipe kerangka analisis tentang masyarakat berdasarkan motivasi individunya. Tipe Gemeischaft (Community/Komunitas), dimana individu bergabung dalam masyarakat secara alami, yang ia sebut dengan Wesenwille (motivasi dasar/alami). Tipe kedua, Gesellschaft (Society/Masyarakat), dimana individu bergabung dalam suatu masyarakat didasarkan pertimbangan rasional dan kepentingan tertentu, yang ia sebut Kürwille (motivasi rasional).

Signifikansi dan relevansi kerangka analisis Tönnies terletak pada relasi antara masyarakat dengan individu anggotanya. Pada masyarakat Gemeinschaft, berdasarkan Wesenwille, keberadaan individu merupakan alat dan sumber daya bagi masyarakat untuk mencapai tujuannya. Sebaliknya pada masyarakat Gesellschaft, dengan Kürwille, keberadaan masyarakat adalah sebagai alat dan sarana bagi individu untuk mencapai tujuannya. Hematnya, individu bergabung dengan suatu masyarakat didorong oleh motivasi kepentingan dan tujuan tertentu. Kerangka analisis Tönnies ini sering direduksi dengan menyimpulkan bahwa Gemeinschaft mencerminkan masyarakat feudal-kuno sedangkan Gesellschaft mencerminkan masyarakat modern.

Kerangka analisis Tönnies ini layak diperhatikan untuk melihat motivasi bermuhammadiyah masa modern sekarang ini. Pada masa awal Muhammadiyah, nilai-nilai dan tujuan Muhammadiyah adalah yang utama. Orang-orang bergabung dengan Muhammadiyah karena terkesan dengan nilai-nilai dan tujuannya. Bergabungnya berbagai komunitas muslim modernis di Solo, Pekajangan, Mingkabau, Jawa Timur membuktikannya. Jauh sebelum Muhammadiyah lahir, komunitas ini telah ada dan berkembang. Disini motivasi Wesenwille dalam bermuhammadiyah sangat menonjol. Keberadaan anggota Muhammadiyah adalah sebagai sumber daya bagi untuk memperjuangkan dan mencapai tujuannya. Kondisi berbeda dan sebaliknya terjadi sekarang ini. Motivasi bermuhammadiyah didominasi watak Kürwille, dimana masing-masing individu memiliki motivasi dan impiannya sendiri dan berharap dapat mencapainya dengan bermuhammadiyah. Jelas bahwa yang utama adalah nilai-nilai dan tujuan individu dan Muhammadiyah hanyalah sarana, alat dan fasilitas untuk mencapainya.

Berdasarkan analisis terakhir, dapat disimpulkan bahwa pada masa sekarang ini terdapat 5 (lima) klasifikasi bermuhammadiyah berdasarkan motivasinya masing-masing. Mereka itu meliputi: 1) Motivasi Religius, disini difahami bahwa dengan bermuhammadiyah juga berarti telah membeli kapling surga di akhirat. Mereka yang bermotivasi religius menganggap bermuhammadiyah sebagai ibadah kepada Allah; 2) Motivasi Sosial, ber-Muhammadiyah sebagai bentuk status sosial tertentu. Tidak bisa dipungkiri Muhammadiyah telah mencipta kategori sosial khusus dalam masyarakat. Siapa yang berhasil menjadi anggota atau pimpinan Muhammadiyah memperoleh status sosial khusus dalam masyarakat; 3) Motivasi Politis, sebagai kategori sosial khusus, Muhammadiyah merupakan modal sosial yang signifikan. Artinya bermuhammadiyah merupakan modal sosial untuk memperoleh berbagai keuntungan politik, sosial maupun ekonomi; 4) Motivasi kehidupan, biasanya berkaitan dengan amal usaha Muhammadiyah. Dengan bermuhammadiyah memberikan jalan dan kesempatan untuk dapat bekerja dan mendapatkan kehidupan dari amal usaha Muhammadiyah; 5) Motivasi Misionaris, bermuhammadiyah dengan tujuan untuk menyebarkan ideology, keyakinan dan kepercayaan tertentu memanfaatkan jaringan organsiasi Muhammadiyah.

Kelima klafikasi bermuhammadiyah ini memiliki derajat keuntungan dan kerugian yang berbeda-beda bagi kelangsungan Muhammadiyah. Klasifikasi Misionaris tentunya yang paling berbahaya. Masuknya beberapa anggota PKS, HTI atau organisasi lain dalam Muhammadiyah dalam rangka menyebarkan nilai-nilainya dan menjungkirbalikkan nilai-nilai Muhammadiyah dengan memanfaatkan jaringan organisasi Muhammadiyah jelas sangat merugikan dan tiada keuntungan sedikitpun. Mereka yang bermuhammadiyah seperti ini harus dicurigai dan diawasi dengan ketat. Klasifikasi Sosial, Politis dan Kehidupan juga mempunyai kerugian dan hanya sedikit keuntungannya. Mereka yang bermuhammadiyah semacam ini juga harus diawasi. Klasifikasi Religius juga bukan yang terbaik. Mereka yang bermuhammadiyah seperti ini cenderung menjadi egois, menduduki jabatan terntentu dalam Muhammadiyah selama puluhan tahun tanpa prestasi apapun namun tidak mau turun dan digantikan orang lain yang lebih mampu.

Kecencerungan bermuhammadiyah dengan variasi motivasi ini perlu mendapatkan perhatian, terlebih ketika pola rekruitmen sporadis yang berlaku begitu inklusif, terbuka dan longgar. Namun juga bukan berarti secara perlahan menciptakan pola organisasi dan rekruitmen tertutup dan eksklusif. Muhammadiyah harus tetap menjadi organisasi yang terbuka dan egaliter. Muhammadiyah hanya perlu memproduksi, mereproduksi, mengkaji ulang, menguji berbagai nilai-nilai dan tujuan dasarnya, dengan tetap memberikan kesempatan bagi anggotanya berkreasi, berekspresi, beinovasi mengembangkan Muhammadiyah dalam jalur utama nilai-nilai dan tujuan dasarnya.