Monday, August 07, 2006

Bermuhammadiyah

Bermuhammadiyah

“Hidup-hidupilah Muhammadiyah,

dan jangan mencari hidup dalam Muhammadiyah”


Satu pesan KHA. Dahlan tersebut termasuk yang paling sering disebut. Semakin seringnya, para warga Muhammadiyah sudah bosan dengannya dan kehilangan relevansi maknanya. Atau teman-teman IRM dan juga AMM pada umumnya, membuat plesetannya: “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, dan carilah pasangan hidup dalam Muhammadiyah”. Namun tidak bisa dipungkiri, bahwa pesan beliau yang satu ini sangat sarat makna, hingga kapan-pun selama Muhammadiyah masih ada di bumi ini. Khususnya pada masa masa sekarang ini, ketika banyak kader karbitan dan orbitan bonceng organisasi, amal usaha dijarah oleh mereka yang memiliki KTM (Kartu Anggota Muhammadiyah) namun berkeyakinan, berideologi dan memperjuangkan nilai-nilai kontra-Muhammadiyah. Siapapun mereka itu, apa tidak takut kuwalat kepada Kiai Dahlan?

Membicarakan makna kuwalat, tanpa bermaksud percaya takhyul dan khurofat, dalam konteks ber-Muhammadiyah dalam arti meyakini, berideologi dan memperjuangkan nilai-nilainya. Kuwalat cenderung berarti pura-pura ber-Muhammadiyah, menikmati dan makan-minum darinya, mendapatkan kedudukan dan kesempatan hidup karenanya, tapi tidak percaya dengan nilai-nilai Muhammadiyah dan tentu saja tidak berusaha sedikitpun memperjuangkannya. Lebih-lebih bila ditambah dengan turut serta dalam gerakan menjelekkan, memfitnah dan merongrong Muhammadiyah. Itu yang disebut kuwalat. Karena dengan keberadaan mereka ini, Muhammadiyah menjadi lemah dan menuju kehancuran.

Pola Rekruitmen Muhammadiyah

Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah menganut pola organisasi terbuka termasuk pola rekruitmennya. Meskipun dalam wacana Muhammadiyah sering muncul istilah ‘Kader’, sebenarnya definisinya tidak jelas dan sering dikaburkan dengan konsep ‘Pimpinan’. Artinya tidak jelas bahwa kader adalah pimpinan itu sendiri atau pimpinan adalah kader sendiri, juga apa perbedaannya dengan anggota. Hingga saat ini, AD/ART Muhammadiyah hanya membahas tentang ‘Anggota’ dan ‘Pimpinan’ dan tidak membahas ‘Kader Muhammadiyah’. Ketidakjelasan ini berakar pada sifat terbuka dalam Muhammadiyah. Berbeda dengan organisasi lain yang bersifat tertutup yang diperlengkapi dengan stratifikasi anggota yang hierarkhis, rigid dan berbagai hak dan kewajiban istimewa bagi masing-masing anggotanya.

Selama kurun waktu awal berdirinya hingga sekarang, meminjam kerangka konsep tranformasi masyarakat muslim Indonesia Kuntowijoyo (beliau mengadopsinya dari tesis Karel A. Steenbrink: Pesantren Madrasah Sekolah) dari masyarakat pra-industrial, semi-industrial dan industrial.

Pra-industrial

Genealogis

Semi-Industrial

Segmental

Industrial

Sporadis

Pada masa pra-industrial atau masa Muhammadiyah awal, pola rekruitmen Muhammadiyah menganut jalur Genealogis. Muhammadiyah berkembang ditopang oleh orang-orang yang masih kerabat, memiliki hubungan darah, bersaudara, bapak dan anak dan hubungan kedekatan dan kekerabatan lain. Muhammadiyah masa semi-industrial, rekruitmennya menganut jalur Segmental. Disini ia ditopang kelompok-kelompok tertentu. Ketika memasuki masa industrial, pola rekruitmen Muhammadiyah menganut Sporadis, terbuka, siapapun bisa masuk bila memenuhi syarat-syarat tertentu yang sangat umum (Wardana, 2003).

Implikasi pola rekruitmen sporadis ini tampak jelas pada masa sekarang. Para tokoh Muhammadiyah hasil rekruitmen jalur Genealogis dan Segmental mulai menghilang. Tokoh-tokoh Muhammadiyah terkini lahir dari perjuangan mereka dalam Muhammadiyah, bukan warisan dan pemberian. Terpilihnya Prof. Dr. M. Dien Syamsudin menjadi Ketua Muhammadiyah membutktikan pola sporadis ini. Beliau ketika duduk di bangku sekolah menengah, aktif di IPNU. Sifat inklusif Muhammadiyah ini tidak selamanya berdampak baik khususnya bagi dirinya sendiri. Tanpa disadari, lahir pula orang-orang yang hanya bonceng, memanfaatkan dan mencari kehidupan dalam Muhammadiyah tanpa mau mengakui dan memperjuangkan nilai-nilainya.

Bermuhammadiyah

Berdasarkan keyakinan, praktek keagamaan dan afiliasi politiknya, Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan membuat klasifikasi warga Muhammadiyah di Wuluhan, Jember, Jawa Timur dengan kategorisasi: Islam Murni (Kel. Al-Ikhlas); Islam murni yang tidak mengerjakan sendiri tapi toleran terhadap praktek TBC (Kel. Kiai Dahlan); neotradisionalis (Kel. Munu, Muhammadiyah-NU); dan neosinkretis (kel. Munas, Muhammadiyah-Nasionalis atau disebut juga Marmud, Marhaenis-Muhammadiyah) (Mulkhan, 2000). Berdasarkan kerangka analisis motivasi bermasyarakat dari Ferdinand Tönnies, seorang Sosiolog Klasik German, bagaimana klasifikasi berr-Muhammadiyah. Dalam karyanya Gemeischaft und Gesellschaft (diterjemahkan oleh Charles Loomis: Community and Society, 1963), ia mengemukakan dua tipe kerangka analisis tentang masyarakat berdasarkan motivasi individunya. Tipe Gemeischaft (Community/Komunitas), dimana individu bergabung dalam masyarakat secara alami, yang ia sebut dengan Wesenwille (motivasi dasar/alami). Tipe kedua, Gesellschaft (Society/Masyarakat), dimana individu bergabung dalam suatu masyarakat didasarkan pertimbangan rasional dan kepentingan tertentu, yang ia sebut Kürwille (motivasi rasional).

Signifikansi dan relevansi kerangka analisis Tönnies terletak pada relasi antara masyarakat dengan individu anggotanya. Pada masyarakat Gemeinschaft, berdasarkan Wesenwille, keberadaan individu merupakan alat dan sumber daya bagi masyarakat untuk mencapai tujuannya. Sebaliknya pada masyarakat Gesellschaft, dengan Kürwille, keberadaan masyarakat adalah sebagai alat dan sarana bagi individu untuk mencapai tujuannya. Hematnya, individu bergabung dengan suatu masyarakat didorong oleh motivasi kepentingan dan tujuan tertentu. Kerangka analisis Tönnies ini sering direduksi dengan menyimpulkan bahwa Gemeinschaft mencerminkan masyarakat feudal-kuno sedangkan Gesellschaft mencerminkan masyarakat modern.

Kerangka analisis Tönnies ini layak diperhatikan untuk melihat motivasi bermuhammadiyah masa modern sekarang ini. Pada masa awal Muhammadiyah, nilai-nilai dan tujuan Muhammadiyah adalah yang utama. Orang-orang bergabung dengan Muhammadiyah karena terkesan dengan nilai-nilai dan tujuannya. Bergabungnya berbagai komunitas muslim modernis di Solo, Pekajangan, Mingkabau, Jawa Timur membuktikannya. Jauh sebelum Muhammadiyah lahir, komunitas ini telah ada dan berkembang. Disini motivasi Wesenwille dalam bermuhammadiyah sangat menonjol. Keberadaan anggota Muhammadiyah adalah sebagai sumber daya bagi untuk memperjuangkan dan mencapai tujuannya. Kondisi berbeda dan sebaliknya terjadi sekarang ini. Motivasi bermuhammadiyah didominasi watak Kürwille, dimana masing-masing individu memiliki motivasi dan impiannya sendiri dan berharap dapat mencapainya dengan bermuhammadiyah. Jelas bahwa yang utama adalah nilai-nilai dan tujuan individu dan Muhammadiyah hanyalah sarana, alat dan fasilitas untuk mencapainya.

Berdasarkan analisis terakhir, dapat disimpulkan bahwa pada masa sekarang ini terdapat 5 (lima) klasifikasi bermuhammadiyah berdasarkan motivasinya masing-masing. Mereka itu meliputi: 1) Motivasi Religius, disini difahami bahwa dengan bermuhammadiyah juga berarti telah membeli kapling surga di akhirat. Mereka yang bermotivasi religius menganggap bermuhammadiyah sebagai ibadah kepada Allah; 2) Motivasi Sosial, ber-Muhammadiyah sebagai bentuk status sosial tertentu. Tidak bisa dipungkiri Muhammadiyah telah mencipta kategori sosial khusus dalam masyarakat. Siapa yang berhasil menjadi anggota atau pimpinan Muhammadiyah memperoleh status sosial khusus dalam masyarakat; 3) Motivasi Politis, sebagai kategori sosial khusus, Muhammadiyah merupakan modal sosial yang signifikan. Artinya bermuhammadiyah merupakan modal sosial untuk memperoleh berbagai keuntungan politik, sosial maupun ekonomi; 4) Motivasi kehidupan, biasanya berkaitan dengan amal usaha Muhammadiyah. Dengan bermuhammadiyah memberikan jalan dan kesempatan untuk dapat bekerja dan mendapatkan kehidupan dari amal usaha Muhammadiyah; 5) Motivasi Misionaris, bermuhammadiyah dengan tujuan untuk menyebarkan ideology, keyakinan dan kepercayaan tertentu memanfaatkan jaringan organsiasi Muhammadiyah.

Kelima klafikasi bermuhammadiyah ini memiliki derajat keuntungan dan kerugian yang berbeda-beda bagi kelangsungan Muhammadiyah. Klasifikasi Misionaris tentunya yang paling berbahaya. Masuknya beberapa anggota PKS, HTI atau organisasi lain dalam Muhammadiyah dalam rangka menyebarkan nilai-nilainya dan menjungkirbalikkan nilai-nilai Muhammadiyah dengan memanfaatkan jaringan organisasi Muhammadiyah jelas sangat merugikan dan tiada keuntungan sedikitpun. Mereka yang bermuhammadiyah seperti ini harus dicurigai dan diawasi dengan ketat. Klasifikasi Sosial, Politis dan Kehidupan juga mempunyai kerugian dan hanya sedikit keuntungannya. Mereka yang bermuhammadiyah semacam ini juga harus diawasi. Klasifikasi Religius juga bukan yang terbaik. Mereka yang bermuhammadiyah seperti ini cenderung menjadi egois, menduduki jabatan terntentu dalam Muhammadiyah selama puluhan tahun tanpa prestasi apapun namun tidak mau turun dan digantikan orang lain yang lebih mampu.

Kecencerungan bermuhammadiyah dengan variasi motivasi ini perlu mendapatkan perhatian, terlebih ketika pola rekruitmen sporadis yang berlaku begitu inklusif, terbuka dan longgar. Namun juga bukan berarti secara perlahan menciptakan pola organisasi dan rekruitmen tertutup dan eksklusif. Muhammadiyah harus tetap menjadi organisasi yang terbuka dan egaliter. Muhammadiyah hanya perlu memproduksi, mereproduksi, mengkaji ulang, menguji berbagai nilai-nilai dan tujuan dasarnya, dengan tetap memberikan kesempatan bagi anggotanya berkreasi, berekspresi, beinovasi mengembangkan Muhammadiyah dalam jalur utama nilai-nilai dan tujuan dasarnya.


0 Comments:

Post a Comment

<< Home