Tuesday, August 22, 2006

Menjadi Kader (bukan untuk) Muhammadiyah

Menjadi Kader (bukan untuk) Muhammadiyah

(Tanggapan terhadap Tulisan Farid Setiawan dan para komentatornya)

Micko

Diluar konten materinya, tulisan saudara Farid Setiawan tentang Mu’allimin-Mu’allimaat mengguncang stabilitas sosial-budaya Muhammadiyah. EMGAIN-EMGAAT begitu para alumnusnya menyebut madrasah ini, memang telah menempati posisi elit dan prestisius dalam sejarah perkembangan Muhammadiyah era klasik. Baik James L. Peacock, Mitsuo Nakamura, Alfian hingga (alm) Kuntowijoyo mengakui peran dan pengaruh Mu’allimin-Mu’allimaat dalam percaturan Muhammadiyah di seluruh pelosok negeri ini. Inilah mengapa apapun komentar dan tulisan yang kritis terhadap kedua lembaga pendidikan ini pasti ditanggapi dan dikonter dengan penuh reaktif- antusias, dan kalau perlu disangkal dan dipersalahkan.

Tulisan ini merupakan ekserpsi kasar dari Skripsi penulis di jurusan Sosiologi UGM tahun 2003 berjudul “Menjadi Kader Muhammadiyah: Studi terhadap Wacana Pembaharuan Alumnus Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta dalam Muhammadiyah”. Embrio ide dan gagasan dalam skripsi itu sendiri merupakan gumpalan-gumpalan kegelisahan dan kekecewaan penulis sejak di kelas III Tsanawiyah Mu’allimin terhadap grand design sekolah kader yang ambigu, tidak jelas dan parsial. Unit analisis skripsi tersebut adalah para alumnus Mu’allimin muda lulusan kisaran tahun 1997-2002. Kesimpulan yang perlu diperhatikan adalah 1) Para alumnus muda tersebut mengalami kesulitan dan kegagalan dalam mengaktualisasikan dirinya sebagai alumni sekolah kader Muhammadiyah baik secara konseptual maupun pada dataran praxis; 2) Eksklusifitas dan mitos sekolah kader Mu’allimin hanya berhasil membangun fanatisme Muhammadiyah pada diri alumnusnya, namun gagal mendorong aksi terlibat dan mengembangkan nilai-nilai yang diperjuangkannya dalam dinamika realitas; dan 3) Dinamika Muhammadiyah dengan watak ideologi terbukanya mempengaruhi dan merubah pola rekruitmennya yang tidak friendly dengan alumnus Mu’allimin. Kesimpulan lanjutannya adalah upaya mempertanyakan legitimasi Mu’allimin sebagai sekolah kader Muhammadiyah pada era kontemporer. Berkaitan dengan isu “Penyelamatan Mu’allimin-Mu’allimaat” yang digulirkan oleh saudara Farid S, tulisan ini mendapati momentumnya.

Sekolah Kader tanpa Kader

Sebagai alumnus Mu’allimin dan aktifis muda Muhammadiyah, saya memahami dan menyadari reaksi para alumnus Mu’allimin dan tokoh Muhammadiyah sepuh yang gerah dengan wacana saudara Farid S. Namun sebaiknya mereka juga mau melihat dan memperhatikan lebih cermat kepada para pengelola madasarah khususnya para musrif/musrifah, guru dan asatidznya. Pengalaman pribadi saya ketika masih aktif sebagai siswa, korp musrif adalah sekelompok orang asing yang memasuki ruang terdalam Muhammadiyah. Suatu waktu, sebagian besar musrif adalah alumnus Ponpes Muhamadiyah Paciran Karangasem Lamongan. Berikutnya sebagian mereka berasal dari Ma’had Ali Lamongan. Pernah pula dari para alumnus Ponpes Alamin Madura, dari Gontor, PUTM dan sebagainya. Investigasi saudara Farid S tentang keberadaan para musrif penyebar “virus tarbiyah” bukanlah suara tong kosong yang nyaring. Mu’allimin dan Mu’allimaat memang selalu kesulitan merekrut para musrif yang kompeten, loyal dan ber-background aktifis/kader Muhammadiyah dari tahun ke tahun. Lembaga ini juga kesulitan merekrut guru dan asatidz yang kompeten dan berlatarbelakang aktifis/kader Muhammadiyah. Kesulitan ini yang selanjutnya dimanfaatkan oleh para penyebar “virus tarbiyah” memasuki ruang dalam Muhammadiyah.

Posisi dan pendapatan musrif memang termasuk kecil, namun mereka memiliki peran dan interaksi langsung dengan siswa-siswi madrasah. Mereka memainkan peran yang sangat signifikan dan menentukan dalam pembentukan karakter kader Muhammadiyah dari Mu’allimin-Mu’allimaat. Sayangnya sebagian besar mereka, bukan hanya saat ini tapi sudah sejak beberapa tahun lalu, bukanlah kader/aktifis Muhammadiyah dan tentunya tidak akrab dengan dunia dan perjuangan Muhammadiyah. Indikasi keberadaan penyebar “virus trabiyah” dalam korp musrif/musrifah yang memiliki ideologi dan manhaj yang berbeda dengan Muhammadiyah, serta aktifitas mendevaluasi nilai-nilai Muhammadiyah harus mendapatkan perhatian sangat serius. Tentunya wacana ini jangan direduksi dengan membabi buta pada perbedaan afiliasi partai politik. Ini sangat berkaitan ideologi-manhaj dan cita-cita perjuangan Muhamadiyah pada diri alumnus Mu’allimin-Mu’allimaat. Mereka sebagai kader Muhammadiyah tidak bisa ditawar. Apabila dikemudian hari mereka memperjuangkan ideologi dan nilai-nilai non- atau kontra-Muhammadiyah adalah suatu kerugian besar dan harus dicari penyebabnya. Saat sekarang ini, beberapa sahabat saya sesama alumnus Mu’allimin telah menyeberang ke ideologi lain. Diantaranya ada yang menjadi tokoh Hizbut Tahrir Indonesia di Yogyakarta, Penggiat Tarbiyah hingga terlibat gerakan kiri. Hematnya, sebagian besar mereka tidak aktif dalam Muhammadiyah atau ortomnya, dengan berbagai alasan dan pertimbangan.

Sanggahan Pak Sunardi Sahuri, seorang alumnus Mu’allimin sepuh yang ketiga putranya yang juga alumnus Mu’alimin (Khadafi, Saif dan Deny) adalah sahabat-sahabat dekat saya, sebenarnya mencurigakan. Pak Sunardi Sahuri selama ini tidak banyak terlibat dalam aktifitas Muhammadiyah termasuk ketiga putranya yang menolak aktif di ortom Muhammadiyah (IRM, IMM dan PM). Saya khawatir Pak Sunardi Sahuri tidak memiliki kepekaan dan kesadaran sebagaimana para aktifis Muhammadiyah terhadap bahaya “virus tarbiyah” karena jargon netralitasnya. Lebih jauh, saya sangat kawatir pabila Pak Sunardi Sahuri sendiri adalah pendukung dan penyebar “virus tarbiyah” tersebut.

Integrasi Mu’allimin-Mu’allimaat dalam Sistem Perkaderan Muhammadiyah

Meskipun berpredikat sebagai sekolah kader, Mu’allimin-Mu’allimaat sebenarnya tidak terintegrasi dengan baik dalam sistem perkaderan Muhammadiyah. Kedua lembaga perkaderan tersebut berada dibawah koordinasi langsung PP Muhammadiyah melalui Badan Pembina. Akibatnya semua kebijakan ditingkatan PW, PD, PC, PR Muhammadiyah termasuk ortomnya tidak bisa menyentuh Mu’allimin, bersinggungan pun tidak. Satu bukti yang jelas adalah hingga sekarang ini Mu’allimaat tetap mempertahankan PPMMM (Persatuan Pelajar Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah) dan menolak bergabung dengan IRM. Adalah tidak para siswi Mu’allimaat terlibat aktif dalam IRM di Yogyakarta karena organsiasi kesiswaannya tidak memiliki relasi dengan IRM. Epifenomena ini mengindikasikan bagaimana baik secara konseptual maupun praxis, sistem perkaderan Mu’allimin-Mu’allimaat tidak berada dalam payung besar sistem perkaderan Muhammadiyah.

Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah membuka kran Badan Pembina yang selama ini eksklusif terdiri hanya para alumnus Mu’allimin-Mu’allimaat. Badan Pembina selayaknya melibatkan secara aktif Majelis Pendidikan Kader PP Muhammadiyah, PW Muhammadiyah DIY dan Organsasi Otonom Muhammadiyah (baca: AMM). Langkah ini bertujuan untuk mendinamisasi sistem perkaderan Mu’allimin-Mu’allimaat agar relevan dengan dinamika internal dan eksternal Muhammadiyah. Langkah kedua menyangkut screening ideologi dan cita-cita perjuangan para pengelola Mu’allimin-Mu’alimaat termasuk musrif/musrifah, guru dan asatidznya dikomparasikan dengan nilai-nilai perjuangan Muhammadiyah. Langkah ini sebenarnya sangat kontroverial, karena sangat sensitif dan radikal. Namun mengingat Mu’allimin-Mu’allimaat sebagai sekolah kader dan reputasinya dikalangan warga Muhammadiyah, kedua lembaga ini tidak bisa ditawar lagi harus sangat Muhammadiyah. Langkah ketiga adalah memperbanyak keterlibatan aktif para siswa Mu’allimin dan juga para alumnusnya dalam aktifitas ortom Muhammadiyah. Langkah ini menuntut ketelibatan dan perhatian semua elemen Muhammadiyah khususnya di Yogyakarta. Reputasi Mu’allimin-Mu’allimaat sebagai sekolah kader sebenarnya tidak by design. Predikat tersebut adalah efek dari aktifitas dan keterlibatan para alumnusnya dalam pengembangan dan perjuangan Muhammadiyah. Keterlibatan dan kontribusi para alumnus ini tidak juga serta merta diberikan, lingkungan warga Muhammadiyah-lah yang menuntut dan mengkondisikan mereka sehingga berhasil mengaktualisasikan diri sebagai kader.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home