Wednesday, August 09, 2006

Perkaderan untuk Muhammadiyah

Oleh Micko

Kata Kader dalam dunia realitas Muhammadiyah sangat populer. Namun sebenarnya kata ini digunakan dengan sangat arbiter, serampangan dan tanpa dasar filosofis dan organisasional yang jelas dan mapan. Kader sering dirujukkan kepada anak/generasi muda, pimpinan ortom/lembaga atau siapapun yang memiliki kaitan dengan Muhammadiyah. Kader memiliki batasan makna yang sangat luas, yang bertumpang tindih dengan Pimpinan dan Anggota Muhammadiyah.

Selama puluhan tahun, sejak Muhammadiyah mapan sebagai organisasi, wacana krisis kader sudah ada dan tidak pernah terselesaikan. Krisis kader ditandai dengan gejala kuantitas kader yang semakin berkurang (khususnya pada waktu penyusunan pimpinan organisasi), kualitas kader berhadapan dengan realitas baik di dalam maupun di luar Muhammadiyah (di dalam menyangkut profesionalisme di AUM), beberapa warga/kader Muhammadiyah memilih pindah/menyeberang ke organisasi lain (baik yang sejenis atau mirip/bid’ah Muhammadiyah). Berdasar fakta-fakta ini, revitalisasi Perkaderan Muhammadiyah yang digaungkan dalam Muktamar dan Musywil ditujukan untuk mengatasi krisis kader ini (meningkatkan kuantitas dan kualitas kader dan mencegah penyeberangan kader). Apakah ini semua betul-betul menjadi tujuan perkaderan Muhammadiyah? Ini sangat berkaitan dengan jawaban pertanyaan, untuk apa sebenarnya kehadiran Muhammadiyah. Hingga sekarang ini belum tercapai suatu konsensus bersama yang luas, terlembagakan dan terinternalisasi (juga kontekstualisasi) dengan baik di dalam setiap komponenen/elemen Muhammadiyah tentang tujuan, cita-cita, langkah-langkah mencapainya baik Muhammadiyah dan Perkaderannya. Reduksi Perkaderan dalam Pelatihan Bait/Dar al Arqom mengakibatkan perkaderan menjadi kering dan kehilangan watak motivatornya. Terlebih dalam pelatihan, banyak jebakan-jebakan dalam perumusan tujuan, target, proses hingga pemilihan materi dan penekanannya.

Tulisan ini bertujuan untuk mengeksplorasi gagasan tentang tujuan dan bagaimana perkaderan dalam Muhammadiyah. Secara normative, perkaderan memiliki beban tugas untuk menciptakan cita-cita yang bisa dicapai, guideline untuk mencapainya dan ikatan emosional dengan Muhammadiyah baik sebagai komunitas dan patronnya. Sehingga seorang kader memiliki cara pandang masalah, berpikir, berperilaku, cara/pola kerja dan berjuang yang khas Muhammadiyah. Tujuang akhir perkaderan berkaitan erat dengan tujuan Muhammadiyah.

Berdasarkan beban dan tanggung jawab tersebut, perkaderan memiliki 6 (enam) tahapan, yaitu:

1. Propaganda/Sosialisasi

Propaganda/Sosialisasi berkaitan dengan pengenalan berbagai hal tentang Muhammadiyah. Tujuanya untuk menarik simpati dan pengikut. Kegiatan ini sebenarnya memiliki peranan yang sangat penting dalam Perkaderan. Propaganda/Sosialisasi yang baik (materinya benar-benar mengemukakan nilai-nilai dan cita-cita serta pola-pola perjuangan Muhammadiyah dan dilakukan melalui cara-cara yang menarik) akan menghasilkan calon-calon kader yang tepat dan sesuai denga harapan.

2. Rekruitmen

Kegiatan ini merupakan satu bentuk seleksi terhadap calon-calon kader Muhammadiyah. Pola rekruitmen yang baik (adanya standar kualitas/kemampuan yang jelas, motivasi yang sesuai) dapat menghasilkan kader-kader Muhammadiyah yang juga berkualitas dan memiliki visi-misi yang sesuai dengan gerakan Muhammadiyah. Sebagai catatan: disini harus dijelaskn dengan rinci, perbedaan antara Kader, Pimpinan dan Anggota Muhammadiyah.

3. Penetapan Tujuan Kader (Goal Attainment)

Setiap kader dan juga seluruh kader Muhammadiyah selayaknya mencapai konsensus berkaitan dengan tujuan kekaderannya. Tahapan ini lebih focus pada pembentukan karakter (character building) kader-kader Muhammadiyah.

4. Peningkatan Kualitas dan Pengayaan kecakapan

Selama ini kader-kader Muhammadiyah hanya dipersiapkan untuk menduduki posisi-posisi politis-manajerial organsisasi. Pola program peningkatan kualitas kader pun cenderung sangat manajerial organisasi sentris. Program-program peningkatan kualitas dan pengayaan kecakapan-kecakapan tertentu selayaknya mendapatkan perhatian.

5. Distribusi/Transformasi Kader

Tahapan ini seringkali terlupakan atau terabaikan. Banyak kader-kader Muhammadiyah menyeberang dan meninggalkan Muhammadiyah setelah mengalami frustasi karena tidak mendapatkan ruang dan kesempatan beraktualisasi. Transformasi/distribusi kader sebenarnya menjawab tantangan dinamika perkaderan dan kader Muhammadiyah yang relative stagnan. Transformasi/Distribusi kader ini tidak hanya internal Muhammadiyah (termasuk ortom dan AUM), tapi juga lembaga-lembaga lain diluar Muhammadiyah yang dipegang/dilingkupi oleh orang-orang Muhammadiyah.

6. Pemeliharaan pola-pola laten (Laten Pattern Maintenance)

Tahapan ini berkaitan dengan upaya memelihara hubungan dan ikatan emosional antara kader dengan Muhammadiyah dan antar kader-kader Muhammadiyah. Selama ini ikatan ini sangat lemah. Ini disinyalir karena watak birokratis-rasional dalam Muhammadiyah. Selain itu desetralisasi organisasi Muhammadiyah turut berperan, berikut tiadanya ruang/wadah lintas elemen dalam Muhammadiyah untuk saling berinteraksi tanpa adanya sekat-sekat kepentingan primordial, penuh egaliter dan akrab.

Piyungan, 15 Feb 2006

0 Comments:

Post a Comment

<< Home